MUI Kampar Tekankan Pentingnya Pembinaan dan Persatuan Umat Melalui Masjid

oleh -438 views

Bangkinang Kota – Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kampar mengundang Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar H. Fuadi Ahmad, SH., MAB; Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kab. Kampar Purwadi, SE; Divisi Pembinaan Nazhir BWI Perwakilan Kab. Kampar H. Syamsuatir ME.Sy, dan seluruh Pengurus Masjid dari Kec. Bangkinang Kota, Bangkinang, Salo, Kuok dan Kampar sebanyak 30 Orang dalam kegiatan muzakarah yang mengangkat tema tentang “Pemberdayaan dan Pembinaan Persatuan Umat Melalui Masjid” (24/11/2022).

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum MUI Kampar Dr. H. Mawardi Muhammad Saleh, Lc., MA. Dalam sambutannya Mawardi mengatakan bahwasanya masjid adalah pusat ibadah, pusat pendidikan dan pusat kegiatan sosial. Oleh karena itu masjid harus menjadi sentra pembinaan persatuan umat. Persoalan khilafiyah atau perbedaan pendapat dalam masalah furu’ fiqih tidak boleh menjadi benih perpecahan di antara jamaah Masjid. Di samping itu, sebagai pusat pendidikan, kajian-kajian di Masjid mesti digalakkan, dan diharapkan kepada pengurus masjid bisa menyusun silabus kajian dan selektif dalam mengundang penceramah yang akan memberikan kajian.

Selanjutnya Fuadi Ahmad memaparkan bahwasanya manajemen pengelolaan masjid mesti ditingkatkan, agar fungsi masjid sebagai pusat pembinaan masyarakat bisa terlaksana. “Masjid berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat membina umat dan mengayomi sehingga pengelolaannya hendaknya diperhatikan mulai perencanaannya seperti bagaimana target kegiatan dakwah disusun oleh pengurus takmir dan terlaksana dengan efektif dan efisien, sehingga nantinya bisa menjadi masjid yang diminati oleh masyarakat dan menjadi masjid ramah anak” tegas Kakan Kemenag Kampar tersebut.

Sementara itu, Purwadi berharap kepada semua masjid yang ada di Kabupaten Kampar, minimal masjid yang pengurusnya ikut dalam kegiatan silaturrahim kali ini, hendaknya bisa membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dengan berkoordinasi dengan Baznas Kab. Kampar.

Kemudian Syamsuatir juga mamaparkan bahwasanya potensi wakaf di masjid sesungguhnya luar biasa besar, akan tetapi potensi wakaf tersebut belum dikelola secara produktif dan profesional. Kita berharap kedepan, masjid mulai melakukan program wakaf secara produktif sehingga masjid memiliki aset wakaf yang bisa menjadi sumber pendanaan bagi pemberdayaan umat dan kegiatan sosial.

Seperti contohnya salah satu masjid yang ada di Kec. Tapung Hilir, dari harta wakaf yang dikumpulkan masjid tersebut sudah memiliki aset 3 kapling kebun sawit yang menjadi sumber pendanaan bagi kegiatan imarah Masjid. Mudah-mudahan Masjid model seperti ini bisa diikuti oleh Masjid-masjid yang lain yang ada di Kabupaten Kampar, tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *