Muzdalifah: Madrasah Kerendahan Hati dan Miniatur Hari Kebangkitan

oleh -64 Dilihat

Dr. H. Mawardi Muhammad Saleh, Lc.,MA (Ketua MUI Kabupaten Kampar)

Di antara seluruh rangkaian ibadah haji, ada satu malam yang sering luput dari perhatian. Malam itu tidak dipenuhi khutbah yang menggelegar, tidak pula diwarnai ritual yang rumit. Bahkan secara lahiriah, yang tampak hanyalah jutaan manusia tidur di atas tanah berbatu, beralaskan bumi dan berselimutkan langit.
Itulah malam Muzdalifah.
Banyak orang mengira Muzdalifah hanyalah tempat transit setelah Arafah dan sebelum Mina. Tempat mengumpulkan batu kerikil, lalu beristirahat sejenak. Padahal sesungguhnya, Muzdalifah adalah madrasah tauhid yang sangat dalam. Ia adalah malam perenungan, malam penyadaran, dan malam ketika Allah mengajarkan kepada manusia hakikat dirinya.
Setelah seharian penuh berdiri di Arafah dengan air mata taubat dan doa-doa yang membumbung ke langit, Allah tidak langsung memerintahkan para jamaah menuju Mina untuk melempar jumrah. Tidak.
Allah terlebih dahulu mengumpulkan mereka di Muzdalifah.
Seakan-akan Allah ingin berkata:
“Jangan terburu-buru kembali menghadapi musuhmu sebelum engkau mengenal dirimu sendiri.”
Di Muzdalifah, manusia belajar bahwa ia hanyalah seorang hamba.
Tidak ada hotel mewah, Tidak ada ruang VIP, Tidak ada kursi kehormatan, Tidak ada gelar akademik, Tidak ada jabatan Semua tidur di atas tanah yang sama, Presiden dan rakyat biasa , Profesor dan petani, Pengusaha dan buruh, Orang Arab dan non-Arab, Kulit putih dan kulit hitam, Semuanya sama.
Bukankah demikian pula keadaan kita kelak di hadapan Allah?
Bukankah suatu hari nanti kita juga akan meninggalkan seluruh atribut dunia dan hanya membawa amal?
Karena itu Muzdalifah sesungguhnya adalah miniatur Hari Kebangkitan.
Malam itu menjadi latihan sebelum manusia menghadapi hari ketika seluruh makhluk dikumpulkan di Padang Mahsyar.
Allah seakan memperlihatkan kepada para tamu-Nya:
“Inilah gambaran perjalanan akhir kalian. Tidak ada yang tersisa kecuali iman dan amal saleh.”
Lebih menarik lagi, kawasan ini dahulu dikenal dengan nama Jam‘ yang berarti “pertemuan” atau “pengumpulan”. Sebagian riwayat sejarah menyebutkan bahwa di tempat inilah Nabi Adam dan Hawa bertemu kembali setelah lama berpisah sejak diturunkan ke bumi.
Benar atau tidaknya riwayat tersebut, makna yang terkandung di dalamnya sangat indah.
Muzdalifah adalah tempat pertemuan.
Pertemuan manusia dengan Tuhannya.
Pertemuan taubat dengan ampunan.
Pertemuan kelemahan hamba dengan kasih sayang Allah.
Pertemuan masa lalu yang penuh dosa dengan masa depan yang penuh harapan.
Tidak heran jika nama Muzdalifah sendiri berasal dari kata yang berarti “mendekat”. Sebab seluruh perjalanan haji sejatinya adalah perjalanan mendekat kepada Allah.
Di sisi lain, di antara Muzdalifah dan Mina terdapat sebuah lembah bernama Wadi Muhassir. Lembah yang mengingatkan manusia tentang nasib kesombongan.
Di tempat itulah pasukan bergajah Abrahah dihentikan oleh Allah ketika hendak menghancurkan Ka’bah.
Pesan yang ingin disampaikan begitu jelas:
Betapa pun besar kekuatan manusia, ia akan hancur ketika menentang kehendak Allah.
Abrahah datang dengan pasukan.
Dengan kekuasaan.
Dengan strategi.
Dengan gajah-gajah perang.
Namun semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan kekuasaan Rabb semesta alam.
Bukankah sejarah dunia berulang kali menunjukkan hal yang sama?
Betapa banyak penguasa yang merasa dirinya abadi, lalu hilang tanpa bekas.
Betapa banyak orang kaya yang merasa hartanya akan menyelamatkan dirinya, lalu meninggal dengan tangan kosong.
Betapa banyak manusia yang merasa dirinya kuat, padahal sesungguhnya sangat rapuh.
Karena itu, haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan untuk menghancurkan berhala terbesar yang ada di dalam diri manusia: kesombongan.
Lalu menjelang fajar, para jamaah berdiri di Masy’aril Haram. Mereka berzikir, berdoa, bertakbir, dan memuji Allah.
Malam telah berlalu.
Arafah telah membersihkan dosa.
Muzdalifah telah membersihkan kesombongan.
Kini hati mereka siap menyambut fase berikutnya.
Mereka akan menuju Mina untuk melempar jumrah, simbol perlawanan terhadap setan dan hawa nafsu.
Inilah urutan pendidikan ilahi yang luar biasa.
Bersihkan dosa terlebih dahulu.
Hancurkan ego terlebih dahulu.
Dekatkan hati kepada Allah terlebih dahulu.
Barulah engkau mampu melawan setan.
Sungguh, umat Islam tidak semuanya mampu pergi ke Tanah Suci. Namun setiap kita bisa membawa ruh Muzdalifah ke dalam kehidupan.
Sesekali kita perlu berhenti dari hiruk-pikuk dunia.
Menanggalkan kesombongan.
Mengingat kematian.
Merenungkan perjalanan hidup.
Dan bertanya kepada diri sendiri:
Jika malam ini aku dipanggil Allah, apa yang akan kubawa menghadap-Nya?
Jabatan? Tidak.
Harta? Tidak.
Popularitas? Tidak.
Yang akan menemani kita hanyalah iman, amal saleh, dan rahmat Allah.
Maka ketika jutaan manusia berbaring di Muzdalifah, sesungguhnya mereka sedang mengajarkan pelajaran paling penting kepada dunia:
Bahwa manusia akan kembali kepada Allah dalam keadaan sendiri, dan yang paling berharga bukan apa yang kita miliki, tetapi siapa diri kita di hadapan-Nya.
Ya Allah, sebagaimana Engkau kumpulkan para tamu-Mu di Muzdalifah, kumpulkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu. Sebagaimana Engkau sucikan mereka dengan ampunan-Mu, sucikan pula hati kami dari dosa, kesombongan, dan kelalaian. Dan sebagaimana Engkau pertemukan mereka dengan rahmat-Mu, pertemukanlah kami kelak dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Amin ya Rabbal ‘Alamin.